PLESIRAN TEMPO DOELOE: Harta Karun VOC di Pulau Onrust?(1)

August 9th, 2008

Setelah baca.. postingan dari milis SAHABAT MUSEUM..

saya langsung teriak dalam hati ini dia yang saya tunggu..tunggu.. (Niat Buanget …)

saya langsung telp teman, sahabat2 saya

=JOSSY=
“Jossy mau ikut plesiran lagi nga?”
*Kemana?*
“Ke Pulau Onrust..kepulauan seribu”
*Boleh tuh..ikut deh* (ok Jossy ikut)

=NANA=
“Nana siang…”
^Ya ada apa ratna?^
“Mau ikut PTD?”
^Kemana?^
“P.Onrust”
^Bayar berapa?^
“Ada deh…”(aku sebut ituh jumlahnya)
^Liat nanti ya? belum tahu nich jadwalnya^
“ok deh”

terus saya coba ke MAYA..

=MAYA=
“Maya.. ikut ngak ke pulau onrust?”
^Duuh aku sudah tidak boleh kemana2 nich^

coba lagi ngajak Andriati dan Deedee yang tempo hari ikut PTD kereta.

Saya SMS ke Andriati ternyata dia tidak bisa, lanjut ke

=DeeDee=
Sedangkan Deedee masih tentative.. (huhuhuhu kalau ngak ikut nyesel tuhhhhh), palagi hobbynya photo.. wih ini kesempatan .. punya kesempatan…

Akhirnya saya daftarkan dulu untuk 3 orang.. buat saya, Nana, dan Jossy.. sampai waktunya ternyata nana batal ikut..Akhirnya aku dengar Deedee jadi ikut.. huhuh senang sekali..

Saya janjian sama Jossy ketemuan di Festival Kemang untuk kemudian menginap dirumah ortu saya, kita berangkat naik kereta dari St. Lenteng menuju Jakarta Kota (BEOS) dan kumpul Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)

Sebelum panjang lebar menjelaskan tentang sejarah dari masing2 pulau yang akan kita kunjungi..

ini jadwal acara dan Nara sumber yang akan memberi informasi selama di pulau2 tersebut.

PLESIRAN TEMPO DOELOE: Harta Karun VOC di Pulau Onrust?
06.30 - 07.00: Pendaftaran Ulang di Museum Fatahillah
07.00 - 07.05: Perkenalan Sahabat Museum
07.05 - 07.10: Perkenalan Goodreads Indonesia
07.10 - 07.15: Sambutan Penerbit Hikmah & Perkenalan Narasumber
(Lilie Suratminto, Alwi Shahab, E.S.Ito)
07.15 - 07.30: Membahas Buku: “Rahasia Meede”
07.30 - 07.45: Monumen Pieter Erbervelt
(narasumber utama: E.S.Ito)
07.45 - 08.15: Gedung Dasaad Musin Concern
(narasumber utama: Alwi Shahab)
08.15 - 09.00: Berangkat ke Pelabuhan Muara Kamal
09.00 - 10.00: Berangkat ke Pulau Onrust
10.00 - 11.00: Kelilingin Pulau Onrust
(narasumber utama: Lilie Suratminto)
11.00 - 12.00: Makan Siang, Break, dan Book-signing
12.00 - 12.30: Kelilingin Pulau Kelor
12.30 - 12.45: Berangkat ke Pulau Bidadari
12.45 - 13.45: Kelilingin Pulau Bidadari
13.45 - 14.00: Berangkat ke Pulau Cipir
14.00 - 15.00: Kelilingin Pulau Cipir
15.00 - 16.00: Kembali ke Pelabuhan Muara Kamal
16.00 - 17.00: Perjalanan kembali ke Museum Fatahillah

-Bapak Lilie Suratminto, dosen Universitas Indonesia dengan bukunya “Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC di Batavia” (udah ada tanda tangannya)

-Bapak Alwi Shahab, pengarag buku2 sejarah dengan bukunya Seri Legenda Jakarta - Ciliwung Venesia dari Timur, Kasino bernama Kepulauan Seribu, Maria Van Engels (Menantu Habib Kwitang), Robinhood dari Betawi. (2 buku seri Legenda Jakarta udah ditanda tangan)

-Mas E.S Ito, penulis novel “Rahasia Meede”dan “Negara Kelima” (Rahasia Meede udah di tanda tangan)

Sampai di Museum Fatahillah, ternyata saya ketemu sama Mbak Farida beserta ibunya, Devi (teman yang waktu PTD sebelumnya) TINA (teman hang out di Escargot).

Untuk mengambil Name Tag peserta barisan dibagi 4 (1-100 , 101-200, 201-300, 301-400) kemudian di Name Tag tertera Nomer Bis Seblah kanan dan Nomer kapal sebelah kiri. Sudah jelas seperti itu masih aja ada yang salah barisan dan ketuker perahu (maklum mungkin baru pertama ikut).

Sambil menunggu teman2 yang sedang mengambil name tag saya mendekati sang pengarang Novel “Rahasia Meede” Abang E.S.Ito untuk menandatangani Novel. (heheh lupa foto bareng) dak apa lah yang penting sudah ada tanda tangannya. Kemudian kita jalan ke dalam Museum Fatahillah untuk pembukaan acara. (acara pun belum di mulai) .. maka saya mendekatkan diri ke Pak ALWI SHAHAB sang penulis sejarah, untuk minta tanda tangan beliau didua bukunya. (kalau ini saya tidak lupa karena dingatkan sama panitia), makasih mbak Ninta.

Akhirnya acara dimulai dengan perkenalan dari para panitia mulai dari SAHABAT MUSEUM, Narasumber, kemudian panitia dari GOODREADS (komunitas pembaca buku) dan terakhir dari penerbit HIKMAH.

Plesiran dimulai dari monument Pieter Erbervelt yang ada didalam tempat kita berkumpul kemudian ke Gedung Dasaad Musin Concern.

=Pieter Erbervelt=
MENURUT Bintang Betawi, banyak orang rante (orang hukuman) yang kabur dari tempat ia dipekerjakan, mencoba bersembunyi di Hutan Sunter. Hutan Sunter terletak tidak jauh dari kawasan pinggiran Betawi, seperti Sumur Batu dan Kelapa Gading. Mereka bersembunyi di tempat itu, karena setiap mereka kelaparan akan mudah mencuri ke kampung yang berdekatan itu.

Orang-orang hukuman memang banyak dipekerjakan di luar selnya, seperti di Istana Gubernur Jenderal atau Stadhuis. Tetapi bila pengawasnya meleng, mereka akan mencoba kabur, agar tidak lagi dimasukkan lagi ke sel yang pengap itu.

Sebenarnya tidak hanya Sunter yang menjadi tempat sembunyi orang hukuman. Di kuburan Cina, Sentiong, dekat Gunung Sa(ha)ri, beberapa waktu yang lalu juga ditemukan empat potong pakaian orang hukuman. Pelarian mereka ke kuburan Cina di Sentiong itu tidak mengherankan. Letak Sentiong berdekatan dengan Drossaer-weg (kini Jalan Taman Sari), yang selama ratusan tahun dikenal sebagai jalan dari para soldadu kompeni yang melakukan desersi. Para soldadu yang tinggal di kastil itu kabur melalui Jalan Mangga Dua, Drossaer-weg, lalu bersembunyi di kuburan Sentiong. Tetapi karena di kuburan itu tidak ada tempat sembunyi, mereka memilih ke Hutan Sunter.

Tanah Sunter sudah dikenal sejak lama. Dalam agenda harian kastil kumpeni (Dag-register), banyak terungkap bahwa para pembesar kumpeni bila pergi ke selatan tidak melalui De Groote Zuid-weg dan Senen, melainkan melewati Sontar (ejaan kumpeni untuk Sunter), Kelapa Gading, Pondok Gede, menuju Cimanggis. Sampai awal abad ke-20 tanah Sunter masih merupakan hutan lebat. Agaknya kumpeni menamai kawasan itu berdasarkan nama kali yang mengalir di situ. Kali itu memiliki mata air yang terletak puluhan kilometer ke arah udik, dan merentang paling tidak dari Cimanggis sampai Ancol. Tetapi yang diberi nama Sunter adalah yang terletak di sebelah timur Kemayoran.

Dalam Dag-register tercantum sejumlah pembesar kumpeni yang dikenal sebagai pemilik tanah Sunter. Misalnya Johannes Cops, yang dilahirkan pada 24 Desember 1663 sebagai anak Jacob Cops dan Elizabeth. Cops muda ini memiliki karier yang cepat menanjak di kumpeni. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Banda, kemudian ditarik ke Betawi sebagai anggota Raad Ordinair. Bahkan pada tahun 1699 ia diangkat sebagai ketua Raad van Justitie. Sebagai pembesar kumpeni, jelas ia sangat kaya dan memiliki hak untuk membeli tanah di mana saja. Berdasar keputusan kumpeni 23 November 1696 (surat tanah 26 Februari 1697) Cops memperoleh tanah yang cukup luas di Sunter dan Cakung. Walau masih berwujud hutan lebat, prospek tanah di Sunter sangat bagus. Pada tahun 1657 berkat usulan anggota Dewan Hindia, Pieter Anthonissz Overtwater, digali kanal ke Sunter dari kastil kumpeni di muara Ciliwung. Tidak mengherankan ketika meninggal, Cops mewariskan peninggalan berupa “rumah petani dengan segala miliknya di dekat Jalan Besar ke Selatan”, yang ditaksir bernilai 40.000 Rds (rijksdaalder = uang perak senilai 2,5 gulden).

Pemilik tanah lain adalah Pieter Erbervelt. Ayahnya, Pieter van Elvervelt, adalah seorang Jerman yang masuk kumpeni dengan jabatan terakhir wakil ketua Heemraden dan kapten pasukan berkuda. Ketika meninggal dunia pada 1696 ia meninggalkan warisan beberapa bidang tanah. Di antaranya tanah di Sunter yang surat tanahnya diperoleh pada tanggal 2 November 1687 yang terletak di Kali Sunter, pada arah tenggara dari kastil kumpeni, dengan luas 34 morgen (ukuran luas tanah di negeri Belanda). Dibanding tanah Cops, yang diwarisi Erbervelt sangat kecil, karena harganya ditaksir hanya 25 Rds.

Pembesar kumpeni lain yang menjadi tuan tanah di Sunter adalah Jacobus Johannes Craan, yang pernah menjabat sebagai komisaris dari tanah sebelah udik Betawi. Tahun 1741 dalam usia 13 tahun ia masuk kumpeni dengan tugas “soldadu surat-menyurat” (soldaat aan de pen). Tahun 1746 ia diangkat sebagai juru tulis (klerk) pada sekretaris jenderal dengan gaji 65 gulden. Berdasar keputusan tanggal 10 September 1763 ia menjadi pemilik tanah Tanjung Oost atau Groeneveld. Ia juga memperoleh hak kepemilikan tanah di dekat Kalibata dengan membayar 27.000 Rds dari Van der Delde, yang jatuh bangkrut. Tanah miliknya bertambah terus, bahkan ia kemudian menjadi pemilik sebelah timur Kali Sunter, yaitu tanah Cipinang sampai Sunter.Agaknya bukan rahasia lagi bahwa tanah Sunter menjadi rebutan para pembesar kumpeni.

Sumber
Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta

= Gedung Dasaad Musin Concern=
Gedung peninggalan akhir abad 19. Dahulu Gedung ini dimiliki oleh keluarga Dasaad, satu – satunya pengusaha pribumi yang memiliki kantor di daerah Kota

Lanjut naik Bis AC ke Muara Kamal tempat pangkalan Kapal Motor (satu motor) untuk menyeberang ke Pulau Onrust. (Bersambung)